Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntryFeb 14, '06 12:04 PM
for everyone

 

 

Budaya membaca masyarakat di negara-negara maju sudah terbukti cukup tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya. Begitu juga di Belanda ini sering kita lihat seperti di bus-bus, didalam kereta api, di bus atau tram halte juga di station kereta api, begitu juga diruang tunggu dokter, rumah sakit dan ruang tunggu lain-lainnya, waktu menunggu itu mereka gunakan untuk membaca.

 

Dimusim panas juga bisa dilihat orang-orang Belanda sambil berjemur dimana-mana tidak lepas sambil membaca buku. Begitu juga sekedar untuk duduk-duduk diteras rumah atau di balkon sambil menikmati udara cerah selalu ada buku atau majalah dan koran ditangan.

 

Hal ini sangat menarik untuk disimak, ternyata minat baca di Belanda ini bukan hanya datang dari diri sendiri tapi faktor-faktor dari luar juga ikut mendukung. Seperti peranan pemerintah dalam memajukan atau mencerdaskan rakyatnya. Pemerintah Belanda  sangat memperhatikan sarana penunjang untuk memenuhi kebutuhan membaca  masyarakatnya dengan menyediakan Bibliotheek  atau Perpustakaan. Disetiap kota, baik  dikota besar  maupun kecil selalu ada perpustakaan kota yang disediakan oleh pemerinta setempat.

 

 Di Delft tempat dimana aku tinggal dengan luas kotanya hanya 24 km persegi dan jumlah penduduknya hampir  96.000 jiwa (hasil penelitian bulan Februari 2005),  ternyata mempunyai  3 buah perpustakaan untuk umum, disamping perpustakaan Techniek Universiteit (TU Delft) yang besar dan berbangunan modern. Bayangkan kota kecil dengan jumlah penduduk yang tidak sampai seratus ribu terdapat begitu banyak perpustakaan.

 

Beda jika dibandingkan dengan kota dimana asalku tinggal di Indonesia, dengan luas kota dan jumlah penduduknya lebih dari 10 kali lipat dari Delft tidak ada satu pun perpustakaan umum dijumpai. Pemerintah sibuk membangun mall-mall dan tempat-tempat bisnis lainnya, akhirnya yang timbul adalah minat berbelanja penduduk yang menjadi meningkat bukanlah minat membaca.

 

Perpustakaan- perpustakaan umum di Delft ini berjarak satu dengan lainnya hanya beberapa kilo meter saja. Satu perpustakaan central  yang paling besar terletak dipusat kota, sedangkan dua filial yang lainnya terdapat di wijk Voorhoof dan Tanthof. Kebetulan aku sudah pernah mengunjungi ketiga tempat ini mengantarkan anakku meminjam buku.  

 

 Ketiga perpustakaan ini diurus sangat baik. Penataan ruanganannya sangat nyaman, tidak ada kesan dingin dan kaku seperti yang dibayangkan. Semua buku tersusun rapi dibagi menurut usia dan jenis buku bacaannya. Untuk buku bacaan anak-anak terdapat kode-kode seperti huruf A,B,C  dll yaitu untuk memudahkan anak atau orangtuanya mencari buku sesuai dengan usia anaknya. Buku-buku yang disediakan juga banyak buku-buku baru, sedangkan buku-buku yang dianggap sudah lama, mereka jual dengan harga sangat murah mulai dari 50 Cent sampai 1 Euro.

 

Fasilitas yang disediakan disamping buku-buku mulai dari usia nol tahun sampai untuk usia dewasa, juga disediakan kaset video, VCD/DVD, CD Room, bahkan juga mainan untuk anak-anak bisa untuk dipinjam. Disamping itu disediakan juga perangkat  komputer dengan sarana internet. Satu hal yang menarik lagi setiap ada sekumpulan buku-buku baru biasanya diletakkan ditempat terpisah dan ditata sedemikian rupa sehingga mengundang ketertarikan pengunjung untuk melihat.

 

Begitu juga untuk menarik minat anak-anak datang ke perpustakaan, dibagian anak-anak terdapat meja atau rak terpisah untuk buku-buku baru atau buku-buku berdasarkan thema saat itu, misalnya “Griezelig Dag” (Hari Menakutkan) maka disusun buku-buku dengan isi cerita yang menegangkan buat anak-anak dengan hiasan-hiasan seperti laba-laba dengan sarangnya, baju hitam dan topi tukang sihir dll.

 

Satu hal yang sangat menarik untuk memotivasi anak-anak membaca adalah anak-anak ikut dilibatkan dalam menilai buku apa yang paling bagus yang mereka baca ditahun sebelumnya. Buku-buku yang termasuk dalam kategori untuk dinilai biasanya ditandai dengan dibagian pinggir buku atau dibalik halaman pertama  tertulis misalnya  “Nederlandse Kinderjury2004” (Juri anak-anak seBelanda2004). Diperpustakaan anak-anak mendapat sebuah pamflet berbentuk buku kecil dengan segala informasi dan formulir untuk menilai buku-buku yang mereka telah baca. Mereka boleh mengisi  3 judul buku yang paling bagus berikut pengarangnya diformulir dan tentu saja mengisi data pribadi dan alamat mereka berikut usia kemudian memasukkan  kekotak yang telah disediakan diperpustakaan. Bagi para pemenang disediakan hadiah yang menarik.

 

Aktivitas lain seperti lomba menggambar dengan thema  musim apa saat itu atau satu tokoh cerita, atau lomba mewarnai  seperti mewarnai Floddertje (tokoh anak-anak karangan Annie M.G. Schmidt) untuk memperingati pengarang buku anak-anak terkenal di Belanda Annie M.G. Schmidt yang sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Kegiatan lain adalah mengenal budaya bangsa lain lewat cerita. Misalnya mendatangkan tukang cerita anak-anak dengan pakaian dan asesori negara yang akan diceritakan berikutnya alat musik tradisional bangsa tersebut.  Setelah bercerita anak-anak ikut dilibatkan dalam bernyanyi dan menari bersama.

 

Dengan segala fasilitas dan aktivitas yang disediakan perpustakaan kepada anggotanya terutama anak-anak itu,  membiasakan anak-anak sejak dini untuk dekat dengan buku-buku. Jadi segala informasi yang ingin mereka ketahui larinya ke perpustakaan, selain internet yang sudah menjamur sekarang.

 

Untuk segala fasilitas-fasilitas seperti buku, CD Room dll, yang disediakan di tiga perpustakaan tersebut, anda cukup hanya mempunyai satu kartu anggota perpustakaan dan anda bisa bebas bergrilya meminjam barang apa yang akan anda  pinjam ditiga tempat ini.

 

Jadi jangan heran kalau dimana-mana di Belanda ini kita melihat orang banyak baca buku, karena sejak kecil dengan perantaraan perpustakaan  mereka sudah biasa bergaul dengan buku.

 

Delft, 24 Nopember'05


Add a Comment